Minggu, 23 Desember 2012

Makalah Pengantar Bisnis


PENGANTAR BISNIS

A.      Sumber Daya yang digunakan dalam Proses Produksi

Perusahaan didirikan untuk menghasilkan suatu produk barang atau jasa, didalamnya terdapat manajemen produksi (operasi) yaitu manajemen atas proses dimana sumber daya digunakan untuk memproduksi barang atau jasa, yang mana semua keputusan di manajemen produksi ini akan mempengaruhi nilai perusahaan itu sendiri. Karena keputusan pada manajemen perusahaan harus memperhatikan kepuasan pelanggan dan jumlah sumber daya, mesin dan persediaan yang dimilki oleh perusahaan. Jika kepuasan pelanggan meningkat maka akan meningkatkan pendapatan perusahaan. Yang mana semuanya akan mempengaruhi pada nilai perusahaan.
Ketika perusahaan memproduksi barang atau jasa maka perusahaan membutuhkan proses produksi (konversi) yaitu serangkaian pekerjaan dimana sumber daya digunakan untuk memproduksi suatu barang atau jasa. Banyak kemungkinan suatu perusahaan akan memproduksi  suatu produk secara spesifik. Jadi, manajemen produksi ditujukan untuk mengembangkan proses produksi yang efisien dengan menentukan jumlah bahan baku yang digunakan, kombinasi sumber daya yang ada (manusia, mesin dan bahan baku), pembagian pekerjaan dan urutan pekerjaan yang dilakukan secara tepat, hingga menghasilkan produk dengan biaya yang relatif rendah dengan mutu yang cukup baik.
Berbagai sumber daya utama yang digunakan oleh perusahaan dalam proses produksi adalah sumber daya manusia (karyawan), bahan baku dan sumber daya yang lain seperti bangunan, mesin dan peralatan.
Sebuah perusahaan harus dapat mengidentifikasi jenis sumber daya manusia (karyawan) yang dibutuhkan untuk produksi. Karena akan berpengaruh pada biaya produksi. Semakin banyak tenaga ahli yang diperlukan, maka semakin tinggi pula biaya produksi yang harus dikeluarkan. Beban operasi atau biaya produksi yang terkait perekrutan sumber daya manusia tergantung pada jumlah tenaga kerja dan tingkat keahliannya.
Bahan baku sangat diperlukan dalam proses produksi, normalnya bahan baku tersebut dirubah oleh sumber daya manusia perusahaan menjadi suatu produk akhir. Akan tetapi tidak semuanya membutuhkan bahan baku, sebagian besar hanya perusahaan-perusahaan manufaktur atau tekstil yang menggunakan bahan baku, tapi untuk perusahaan jasa, tidak begitu tergantung pada bahan baku.
Sedangkan sumber daya lain yang biasanya diperlukan dan digunakan oleh perusahaan seperti bangunan, mesin, peralatan bahkan tekhnologi, membutuhkan kebijakan dalam pengambilan keputusan dalam manajemen produksi agar perusahaan dapat meminimalkan biaya atau beban perusahaan tanpa mengurangi mutu produksi.
Sebisa mungkin perusahaan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada untuk menghasilkan produksi dengan biaya rendah tapi tetap dengan kualitas yang baik, maka dari itu perusahaan mencoba untuk mengkombinasikan atau menggabungkan beberapa sumber daya yang ada dengan menggunakan stasiun-stasiun kerja dan lini perakitan. Stasiun kerja (work station) adalah areal dimana satu atau beberapa orang karyawan diberi pekerjaaan tertentu, di stasiun kerja ini membutuhkan mesin, peralatan produksi dan karyawan. Sedangkan lini perakitan (assembly line) terdiri dari beberapa stasiun kerja dimana setiap stasiun kerja dirancang untuk mengerjakan tahapan-tahapan tertentu dari proses produksi. Dengan begitu, biaya dari semua sumber daya tersebut berikut bangunannya dapat mencukupi jumlahnya, maka manajemen proses produksi yang efisien akan dapat mengurangi pengeluaran, yang nantinya akan dapat diubah menjadi laba yang lebih tinggi.

B.       Memilih Lokasi

Salah satu keputusan yang penting untuk dipertimbangkan dalam manajemen produksi adalah pemilihan lokasi untuk pabrik atau kantor, karena lokasi dapat sangat mempengaruhi biaya produksi. Ada beberapa faktor yang sering menjadi pertimbangan perusahaan dalam menentukan lokasi yang optimal.
Biaya ruang kerja, biaya membeli atau menyewa ruang kerja dapat sangat bervariasi disetiap lokasi. Semakin dekat dengan pusat-pusat wilayah bisnis, maka semakin tinggi biaya sewa lokasi.
Biaya tenaga kerja, mayoritas gaji untuk karyawan di kota besar cenderung lebih tinggi daripada di luar kota besar untuk jenis pekerjaan yang sama.
Insentif pajak, beberapa pemerintah daerah bersedia memberikan kredit pajak untuk menarik perusahaan ke daerah mereka, dengan tujuan untuk menaikkan tingkat kerja dan kondisi perekonomian di daerahnya.
Sumber permintaan, jika perusahaan ingin menjual produknya di suatu daerah tertentu yang banyak peminatnya, maka perusahaan tersebut dapat mendirikan pabrik disana, sehingga dapat meminimalkan biaya transportasi dan pelayanan produk bisa lebih intensif.
Akses transportasi, perusahaan akan berusaha memilih lokasi yang dekat dengan sumber utama transportasinya dan hendaknya mudah diakses sehingga memudahkan pengiriman bahan baku.
Pasokan tenaga kerja, perusahaan yang menginginkan tenaga kerja-tenaga kerja khusus atau ahli, maka perusahaan harus dapat menarik tenaga kerja yang dibutuhkannya, yang mana salah satu caranya dengan menempati lokasi yang dekat dengan tenaga kerja-tenaga yang dibutuhkan atau di daerah yang terdapat pasokan tenaga kerja dengan spesialisasi tertentu yang sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan.
Setelah mempertimbangkan semua faktor yang berhubungan dengan pemilihan lokasi, langkah berikutnya yaitu mengevaluasi segala sesutau yang dapat mempengaruhi daya tarik lokasi tersebut, maka perusahaan dapat memberikan bobot pada masing-masing faktor yang menunjukkan arti penting faktor tersebut. Selanjutnya, menentukan peringkat dari setiap faktor yang mempengaruhi kemungkinan lokasi.

C.      Memilih Desain dan Tata Ruang.

Setelah perusahaan memilih lokasi untuk pabrik manufaktur atau kantornya, maka selanjutnya menentukan desain dan tata ruangnya. Desain menunjukkan ukuran dan struktur dari pabrik atau kantornya, sedangkan tata ruang adalah pengaturan mesin dan perallatan dalam pabrik atau kantor tersebut. Keputusan dalam pengaturan desain dan tata ruang dapat mempengaruhi beban operasi karena harus memutuskan berapa biaya sewa, mesin dan peralatan yang dibutuhkan, dan juga mempengaruhi beban bunga perusahaan kepada bank, untuk pinjaman membeli properti atau mesin.
Beberapa karakteristik yang dapat mempengaruhi keputusan desain dan tata ruang adalah sebagai berikut:
Karakteristik lokasi, keputusan desain dan tata ruang tergantung pada karakteristik atau bentuk lokasi yang ditempati, seperti ketika lokasi yang dipilih mempunyai harga tinggi, maka desain pabrik atau kantor tersebut dapat dibuat bertingkat agar tidak memakan lokasi atau tanah yang luas. Sedangkan tata ruang selanjutnya akan dipengaruhi oleh desain atau bentuk bangunan tersebut.
Proses Produksi, desain dan tata ruang juga dipengaruhi oleh proses produksi yang akan digunakan. Jika menggunakan lini perakitan, yang mana seluruh pekerjaan yang terdapat dalam operasi diletakkan di area umum yang sama, maka perusahaan dapat menggunakan tata ruang produk, yaitu tata ruang di mana pekerjaan-pekerjaan diposisikan sesuai dengan urutan yang telah diberikan. Cara lain yang digunakan perusahaan yang memproduksi mobil, pesawat dll sepenuhnya diproduksi dalam posisi tetap, mereka menggunakan tata ruang posisi tetap, di mana para karyawan mendatangi posisi produk, bukannya menunggu produk tersebut datang pada mereka. Saat ini banyak perusahaan yang menggunakan pabrikasi fleksibel, proses produksi yang dapat dengan mudah disesuaikan untuk mengkondisikan perubahan-perubahan di masa mendatang. Hal ini memungkinkan perusahaan menata ulang tata ruangnya sesuai dengan kebutuhan ketika mereka mengubah produk mereka untuk memenuhi keinginan para konsumen atau permintaan pelanggan, dengan konsekwensi para pekerja atau karyawannya juga memiliki kemampuan yang fleksibel yang dapat ditempatkan di mana saja.
Lini Produk,  seberapa banyak macam produk yang dapat diproduksi oleh sebuah perusahaan. Dengan lini produk yang sempit, maka memungkinkan perusahaan tersebut melakukan spesialisasi terhadap suatu produk. Begitu pula jika perusahaan memiliki lini produk yang lebar, maka memungkinkan perusahaan tersebut menawarkan lebih beragam produk. Tapi seiring dengan perubahan selera pasar, permintaan akan produk juga akan berubah, maka tata ruang harus direvisi ulang untuk mengikuti perubahan yang ada.
Kapasitas Produksi yang diinginkan, menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan desain dan tata ruang. Beberapa perusahaan menggunakan desain yang fleksibilitas untuk meningkatkan pertumbuhan kapasitas produksi dari waktu ke waktu mungkin dengan ditambahkan tingkat. Dan ketika produk yang dihasilkan melebihi kapasitas produksinya sedangkan perusahaan tetap mempertahankan lokasi yang telah ada dan mengembangkan lokasi kedua untuk ekspansi, maka perusahaan tersebut harus menduplikasikan semua mesin serta posisi-posisi jabatan yang ada pada lokasi pertama, kemungkinannya biaya produksi akan semakin meningkat dan produksinya akan menurun. Maka dari itu lebih baik perusahaan merelokasikan lokasi awal dan diubah dengan lokasi yang lebih luas lagi. Saat ini banyak perusahaan yang dapat mencapai produksi yang lebih besar tanpa harus merubah desain dan tata ruang jika karyawannya dapat menyelesaikan sebagian atau pekerjaannya di rumah dengan perkembangan tekhnologi yang telah ada saat ini, mereka dapat menggunakan ruang kerja yang tidak berikan secara permanen kepada seseorang. Dan sistem seperti ini biasanya disebut dengan hotelling atau kantor just in time dan ini biasanya cocok digunakan oleh agen-agen penjualan yang sering melakukan perjalanan, dan biasanya bekerja di rumah.

D.      Pengendalian Produksi

Setelah itu, perusahaan dapat melakukan pengendalian produksi yang meliputi pembelian bahan baku, pengendalian persediaan, pengaturan rute, penjadwalan, dan pengendalian mutu.
Yang harus diperhatikan manajer saat melakukan pembelian bahan baku, mereka harus mencari dan memilih pemasok dan mencoba untuk mendapatkan potongan harga serta memutuskan apakah sebagian pekerjaan produksi dapat didelegasikan kepada para pemasok.
Di dalam pemilihan pemasok bahan baku, perusahaan akan mempertimbangkan berbagai karakteristik seperti harga, kecepatan, mutu, pelayanan, dan ketersediaan kredit. Dapat dilakukan beberapa cara untuk mengevaluasi pemasok bahan baku, dimulai dengan meminta satu contoh produk dari tiap pemasok untuk dilihat mutu dan kualitasnya, kemudian dimintai informasi lebih lanjut mengenai kecepatan pengiriman dan jaminan pelayanan yang tersedia ketika terjadi masalah pengiriman. Dapat juga perusahaan menggunakan beberapa pemasok, yang kemudian memilih salah satunya yang lebih cocok dan masuk dalam kriteria perusahaan tersebut. Beberapa perusahaan mencoba untuk tidak tergantung pada pemasok tunggal, karena ketika terjadi masalah terhadap pemasok tersebut, maka tidak terkena dampak yang signifikan terhadap perusahaan.
Untuk sekarang banyak perusahaan yang menggunakan e-procurement, penggunaan internet dalam membeli sebagian bahan baku yang digunakan. Dengan keuntungan menghemat waktu para karyawan dalam melakukan pemesanan dan akhirnya akan mengurangi pengeluaran.
Perusahaan biasanya membeli bahan baku dalam jumlah banyak agar dapat potongan harga atau diskon, yang mana berarti mengurangi pengeluaran dengan tetap mendapatkan bahan baku dengan kualitas dan mutu yang cukup baik.
Perusahaan-perusahaan manufaktur umumnya menggunakan outsourcing yaitu membeli bagian-bagian produk dari pemasok, bukannya memproduksi bagian-bagian itu sendiri, karena dapat mengurangi beban perusahaan, ketika pemasok dapat membuat bagian tersebut dengan harga yang lebih murah daripada perusahaan itu sendiri. Tapi kekurangan dari perusahaan yang menggunakan outsourcing, dia akan tergantung pada perusahaan-perusahaan lain. Karena alasan ini, perusahaan yang melakukan outsoucing harus sangat berhati dalam memilih pemasok yang dapat diandalkan. Strategi mendelegasikan sebagian pekerjaan produksi kepada pemasok dikenal dengan deintregasi.
Semakin banyak perusahaan yang membayar secara elektronik daripada cek bahkan cash, hal ini memungkinkan dilakukannya sistem produksi yang lebih efisien, untuk bisa menggunakan pembayaran elektronik sebuah perusahaan harus memiliki cukup banyak saldo dalam rekening perusahaan itu sendiri.
Pengendalian persediaan adalah proses mengelola persediaan pada tingkat yang akan meminimalkan biaya. Pengendalian ini mengharuskan adanya manajemen persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi.
Persediaan bahan baku, ketika sebuah perusahaan menanggung persediaan bahan baku, berarti perusahaan harus mengeluarkan biaya penyimpanan yang artinya biaya tersebut dikeluarkan dalam memelihara (menyimpan) persediaan. Untuk mengurangi biaya penyimpana, perusahaan dapat lebih sering melakukan pemesanan dalam skala kecil, tapi akibatnya, biaya pemesanan sendiri akan meningkat. Jadi kesimpulannya, strategi apapun yang dipilih antara biaya penyimpanan maupun biaya pemesan, pasti akan ada yang terkurangi, tapi akan meningkatkan biaya yang lain.
Perusahaan-perusahaan jepang, menggunakan sistem Just in Time (JIT) untuk mengurangi biaya penyimpanan, yaitu dengan mencoba mengurangi persediaan bahan baku ketingkat yang paling minimun dengan sering melakukan pemesanan bahan baku dalam jumlah kecil. Tapi efek dari sistem tersebut adalah, semakin meningkatnya biaya waktu manajerial dan biaya pengiriman dan juga dapat terjadi kekurangan persediaan jika tidak diterapkan secara tepat. Tapi ada beberapa perusahaan di Amerika Serikat yang berhasil menggunakan sistem JIT secara efektif.
Perencanaan kebutuhan bahan baku, proses untuk memastikan telah tersedianya bahan baku bilamana dibutuhkan. Dengan bantuan komputer para manajer menentukan jumlah bahan baku secara spesifik yanh sebaiknya dibeli. Dengan menggunakan cara flash back, atau dengan mengkaji dari barang jadi, kemudian waktu dan bahan baku yang dibutuhkan dalam proses produksi. Ketika perusahaan meramalkan permintaan akan produk dimasa mendatang, perusahaan dapat menentukan waktu dimana bahan baku tersebut harus diterima untuk dapat mencapai tingkat produksi yang dapat mengakomodasi permintaan yang diramalkan.
Pengendalian persediaan barang dalam proses, perusahaan mencoba agar terhindar dari kekuarangan semua jenis persediaan, yang mana jika ada kekurangan dalam persediaan barang, maka konsekuensinya adalah gangguan proses produksi yang menyebabkan hilangnya penjualan.
Pengendalian persediaan barang jadi, perusahaan mencoba untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan produk dengan melakukan pengarahan ulang berbagai sumber daya yang dimiliki ke arah produksi produk-produk lain. Jika terjadi kelebihan pasokan, maka perusahaan dapat mengimplementasikan strategi pemasaran seperti pemasangan iklan atau pengurangan harga.
Ketika perusahaan mengantisipasi terjadi kenaikan permintaan, akan dikhawatirkan terjadinya kekurangan pasokan dan harus mengembangkan strategi untuk meningkatkan volume produksi.
Dampak teknologi pada pengendalian persediaan, untuk saat ini perusahaan dapat menggunakan internet untuk meningkatkan pengendalian persediaan. Jadi jika satu toko mengalami kekurangan pasokan, maka akan segera diketahui oleh toko yang lain dan segera memasoknya, sehingga jarang ditemukan toko atau perusahaan yang mengalami kekurangan persediaan.
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan adalah pengaturan rute pekerjaan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produksi dari suatu produk. Dalam hal ini, perlu adanya pengevaluasian untuk memastikan apakah proses tersebut dapat ditingkatkan sehingga memungkinkan dilakukannya proses produksi yang lebih cepat  atau lebih murah.
Yang kedua adalah penjadwalan yaitu tindakan penentuan periode waktu untuk masing-masing pekerjaan dalam proses produksi. Penjadwalan dapat memungkinkan para manajer meramalkan berapa banyak produk yang dapat diproduksi, dan ini semua tergantung dengan karyawannya, mereka harus memahami hal-hal apa yang diinginkan oleh perusahaan.
Penjadwalan produksi saat ini sedang ditingkatkan melalui sebuah sistem berbasis komputer yang disebut sistem perencanaan sumber daya perusahaan, dengan menghubungkan sistem komputer dari berbagai departemen, adapula penjadwalan proyek-proyek khusus seperti menggunakan diagram Gantt, dan teknik evaluasi dan peninjuan program yang menjadwalkan pekerjaan dengan cara yang akan meminimalkan penundaan-penundaan yang terjadi dalam proses produksi.
Yang terpenting selanjutnya adalah mutu dari sebuah produk yaitu tingkat sampai mana produk atau jasa yang diberikan perusahaan mampu memenuhi keinginan atau harapan pelanggan, jadi mutu berhubungan dengan kepuasan pelanggan. Maka dari itu dibutuhkan pengendalian mutu yaitu proses untuk memastikan apakah mutu dari suatu produk telah memenuhi tingkat mutu yang diinginkan dan mengidentifikasi perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan dalam proses produksi.
Tindakan mengawasi dan meningkatkan mutu produk dan jasa yang dihasilkan disebut manajemen mutu total. Untuk memastikan bahwa mutu tetap dipertahankan, perusahaan secara berkala mengevaluasi metode-metode yang digunakan untuk mengukur mutu produk atau jasanya.
Perusahaan mengandalkan berbagai teknik untuk menilai mutu suatu produk, salah satunya pengendalian oleh tekhnologi, pengendalian oleh karyawan, di dalam suatu perusahaan ada yang menggunakan lingkaran pengendalian mutu yaitu sekelompok karyawan yang akan menilai mutu suatu produk dan menawarkan saran-saran untuk peningkatannya. Selain itu ada juga pengendalian melalui pengambilan contoh, yaitu dengan memilih secara acak salah satu produk yang diproduksi dan dilakukan pengujian untuk memastikan apakah produk telah memenuhi standar mutu. Selanjutnya pengandalian melalui pengawasan keluhan, memperbaiki kekurangan yang ada.

E.       Metode-Metode untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi

Perusahaan selalu mencoba untuk meningkatkan efisiensi produksi yaitu kemampuan untuk memproduksi produk pada tingkat mutu tertentu dengan biaya yang rendah. Banyyak perusahaan yang menentukan tujuan efisiensi produk dengan melakukan tolak ukur yaitu, metode pengevaluasian kinerja dengan melakukan perbandingan terhadap beberapa tingkat tertentu, biasanya dengan suatu tingkat yang telah dicapai oleh perusahaan lain.
Perusahaan dapat meningkatkan efisiensi produksi dengan beberapa metode, yang pertama dengan meningkatkan teknologi terbaru, banyak proses produksi yang diselesaikan oleh mesin tanpa menggunakan tenaga manusia atau otomatisasi, untuk memberikan hasil yang maksimal beberapa hal yang perlu dipertimbangkan rencana, penggunaan otomatisasi di tempat yang memberikan manfaat terbesar, pelatihan, dan terus melakukan evaluasi biaya dan manfaat. Selain itu juga menggunakan internet untuk menghubungkan antara karyawan-karyawan perusahaan atau perusahaan dengan pemasoknya.
Perusahaan juga dapat mengurangi biaya denganmencapai skala ekonomis, yaitu seiring dengan naiknya jumlah yang diproduksi, biaya per unit juga akan mengalami penurunan.
Yang terakhir dengan restrukturisasi, perubahan dari proses produksi sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan efisiensi, ketika restrukturisasi mengurangi beban produksi barang atau jasa, maka restrukturisasi dapat meningkatkan laba perusahaan maka dari itu akan meningkatkan nilai perusahaan itu sendiri.
Tapi sebagian perusahaan juga melakukan rekayasa ulang, yaitu perancangan ulang  struktur oragnisasi ddan operasi produksi, yang mengakibatkan terjadinya beberapa perubahan kecil. Ada pula yang menggunakan perampingan, yaitu usaha perusahaan memangkas pengeluaran dengan menghilangkan posisi jabatan tertentu. Akan tetapi bayak kerugian yang disebabkan perampingan seperti, biaya yang terkait dengan penghilangan posisi jabatan, biaya pelatihan karyawan yang mendapatkan tanggung jawab lebih luas, belum lagi moral atau psikis karyawan yang merasa posisi mereka akan dihilangkan, juga dapat terjadi penurunan mutu. Beberapa perusahaan terobsesi untuk menghilangkan beberapa komponen jabatan tertentu yang terlihat tidak efisien, dengan melakukan perampingan berlebihan, yang mana biasa disebut dengan Anoreksia Perusahaan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar